Dukungan Politik Hamida Karawang Kepada H. Aep Syaepuloh Tinggal Ketok Palu

KARAWANG, PILARJABAR – Menjelang Pilkada Karawang yang akan digelar pada 14 November 2024 mendatang, dukungan terus membanjiri Bakal Calon Bupati (Balonbup) H. Aep Syaepuloh, S.E.

Deklarasi dukungan politik untuk sang petahana itu selanjutnya akan segera dikemukakan oleh Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida) Koordinator Kabupaten Karawang.

Hal itu diceritakan Tokoh Karawang, H. Jaa Maliki kepada PILARJABAR.COM, pada saat ia berkesempatan bersilaturahmi dan berdialog dengan Ketua Hamida Koordinator Karawang, KH. Ujang Juhyar, S.Pd.i,MA.

Diketahui, KH. Juhyar merupakan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Al-Huda, Desa Cengkong Kecamatan Purwasari.

KH. Juhyar merupakan figur kiai aktivis yang bisa meluangkan waktu untuk aktif di beberapa organisasi sebagai bentuk kepedulian sosial beliau terhadap eksistensi umat Islam Karawang.

Di lingkungan Perkumpulan Nahdlatul Ulama, saat ini KH. Juhyar menjabat sebagai Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Karawang. Dan menjabat sebagai Ketua Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida) Kabupaten Karawang yang anggotanya menyebar seluruh pelosok Kabupaten Karawang.

H. Aep Syaepuloh Dimata KH. Juhyar, S.Pd.I, MA

Setelah selesai menerima tamu, Kiai Juhyar menghampiri saya, kemudian duduk bersama sambil lesehan di ruangan yang biasa digunakan untuk para tamu beliau. Walaupun terasa risih dan penuh ta’dzim, saya memulai untuk membuka pembicaraan yang diawali dengan menanyakan kedekatan dan cara pandang beliau terhadap sosok Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh yang berniat ikut kontestasi dalam Pilkada 2024.

Menurut Kiai Juhyar, kedekatan dengan Bupati Karawang sejak Pilkada tahun 2020, ketika itu Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida) Kabupaten Karawang mendeklarasikan mendukung pasangan dr. Cellica Nurrachadiana – H.Aep Syaepuloh, SE. Dan Hamida merupakan salah satu komponen barisan santri yang mengantarkan Ibu dr. Cellica Nurrachadiana sebagai Bupati dan H. Aep Syaepuloh, SE sebagai Wakil Bupati Karawang.

Lebih lanjut Kiai Juhyar menceritakan, bahwa ketika wafatnya orang tua H. Aep Syaepuloh, saya termasuk yang diundang untuk memimpin acara rangkaian tahlilan di rumah kediaman orang tua H. Aep Syaepuloh. Artinya, H. Aep Syaepuloh tetap istiqomah menjalankan tradisi dan ajaran Ahlussunnnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, itu yang membuat saya bangga kepada sosok Bupati, H. Aep Syaepuloh, tutur Kiai Juhyar.

Ketika ditanya terkait dukungan politik Hamida kepada H. Aep Syaepuloh pada Pilkada tahun 2024. Kiai Juhyar dengan tegas menyatakan bahwa hubungan Hamida dengan Bupati, H. Aep Syaepuloh selalu menjalin silaturahmi dan komunikasi secara intens, hal ini dibuktikan oleh beberapa event yang diselenggarakan Hamida Karawang, Bupati selalu mensuport kegiatan tersebut.

Termasuk Bupati memberikan fasilitas pemberangkatan Pengurus Hamida Karawang dalam acara Reuni Akbar Hamida di Kabupaten Tasikmalaya beberapa waktu yang lalu. Kiai Juhyar sambil merubah posisi duduknya menyatakan bahwa, dukungan politik Hamida Karawang kepada H. Aep Syaepuloh tinggal menunggu “ketok palu” (deklarasi), karena pengurus dan anggota Hamida sudah mencapai 90 persen memberikan dukungan kepada incumbent.

Pada saat ditanya terkait jabatan beliau sebagai Katib Syuriyah PCNU Karawang supaya tidak terjadi salah persepsi di kalangan pengurus dan warga Nahdliyin Karawang. KH Juhyar dengan cerdas dan bijak menjelaskan, bahwa Nahdlatul Ulama memegang teguh prinsip-prinsip yang tertuang dalam Khittah 1926 yang secara kelembagaan menjaga jarak yang sama dengan partai politik dan tidak ikut terlibat dalam politik praktis, termasuk Pilkada.

Walaupun pengurus atau warga Nahdlatul Ulama mempunyai hak politik untuk dipilih dan memilih yang dijamin oleh konstitusi negara. Ini berarti hak politik setiap warga nahdliyin dijalankan akan tetapi jangan membawa nama Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut KH Juhyar memaparkan bahwa, sudut pandang terbaik dalam memahami Nahdlatul Ulama sebenarnya mengembalikan itu semua dalam tradisi-tradisi yang berkembang di pesantren. Nahdlatul Ulama dilahirkan oleh para kiai di pesantren, dan pengikut Jam’iyyah ini sebagian besar adalah alumni pesantren dan kultur dalam Nahdlatul Ulama adalah manifestasi dari tradisi dan norma yang berkembang di pesantren, tegas Kiai Juhyar.

Demikianlah perbincangan antara penulis dengan KH. Juhyar, S.Pd.i, MA Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Al-Huda yang juga Ketua Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida) Kabupaten Karawang. (Ist/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *