CBA Sebut Bakal Ada Reshuffle Ditubuh KMP : Operasi Besar Mencopot Menteri Lamban!

JAKARTA, PILARJABAR – Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah menggelar pertemuan tertutup di kediamannya, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (11/10/25). Dalam pertemuan itu hadir Ketua MPR Ahmad Muzani, Kepala BIN, sejumlah menteri, dan pejabat penting lainnya.

Menurut analisa Center for Budget Analysis (CBA), pertemuan di Hambalang itu merupakan sinyal kuat akan adanya reshuffle di tubuh Kabinet Merah Putih (KMP) dalam waktu dekat.

“Pertemuan di luar jalur resmi negara ini bukan sekedar diskusi hangat, melainkan sinyal kuat adanya rencana reshuffle kabinet dalam waktu dekat,” ujar Koordinator CBA, Jajang Nurjaman dalam sebuah rillisnya yang diterima Pilarjabar.com, Senin (13/10/25).

Lebih lanjut jajang menyambut baik jika reshuffel KMP benar terjadi. Terlebih, selama satu tahun pemerintahan berjalan, publik mulai menilai arah pemerintahan Prabowo tersendat oleh menteri – menteri yang tidak seirama dengan semangat kerja Presiden.

“Banyak kebijakan strategis yang stagnan, realisasi anggaran berjalan lambat, dan proyek prioritas nasional tidak menampakan hasil signifikan yang dilakukan pemerintah Prabowo,” kata Jajang.

Menurut Jajang, reshuffle kali ini bukan sekedar kosmetik politik, tetapi harus menjadi operasi besar untuk mencopot menteri lamban, oportunis, dan birokratis.

“Prabowo perlu membangun kabinet baru dengan figur – figur yang memiliki karakter kuat, integritas tinggi, dan keberanian menghadapi tekanan politik. Indonesia tidak membutuhkan menteri penjilat atau pemburu proyek, tetapi sosok teknokrat sejati seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menteri yang bekerja dengan otak, bukan dengan basa-basi,” ungkapnya.

Diketahui, Menteri Keuangan RI Purbaya selama ini menunjukkan sikap berani dan rasional. Ia menolak kebijakan populis yang merusak keseimbangan fiskal, menertibkan pemborosan anggaran, dan mengutamakan data serta kepentingan publik di atas tekanan politik. Karakter seperti Menkeu Purbaya inilah yang seharusnya menjadi standar baru kabinet Prabowo.

Kembali Jajang menegaskan, Presiden Prabowo harus berani membersihkan kabinetnya dari menteri-menteri “setengah hati”, yang hanya menghambat agenda besar bangsa.

“Reshuffle tidak akan berarti apa-apa jika hanya memindahkan kursi antar kader partai atau memperluas koalisi kekuasaan. Yang dibutuhkan saat ini adalah perubahan kultur birokrasi di level tertinggi pemerintahan mengganti pejabat yang lebih sibuk berpolitik daripada bekerja,” tegasnya.

Jajang juga menyebut, pemerintahan Prabowo membutuhkan menteri dengan nyali, kapasitas, dan keberpihakan pada publik, bukan mereka yang pandai memainkan pencitraan sambil membiarkan uang rakyat tersendat di meja birokrasi.

“Reshuffle adalah ujian kepemimpinan dan arah moral Presiden. Jika dijalankan dengan bersih, transparan, dan berbasis kinerja, publik akan kembali percaya bahwa pemerintahan ini memang bekerja untuk rakyat bukan untuk kelompok politik atau jaringan kekuasaan tertentu,” tandasnya. (Ist/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *